Minggu, 16 Oktober 2011

SEJARAH TENUN SONGKET DI SUMATERA SELATAN

Cik Imah pengrajin tenun songket dari desa Limbang Jaya Kecamatan Tanjung Batu
OGAN ILIR adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Di daerah ini ada sebuah kerajinan tenun yang biasa di sebut “Tenun/sewet Songket Sumatera Selatan”. Songket adalah kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsin. Kata “ Songket “ itu sendiri berasal dari kata “Tusuk“ dan “Cukit“ yang diakronimkan menjadi “Sukit” kemudian berubah menjadi “Sungki”, dan akhirnya menjadi “ Songket”.

Di Kabupaten OGAN ILIR, sentra pembuatan Tenun Songket terdapat di Kecamatan Tanjung Batu antara lain Kelurahan Tanjung Batu, Desa Tanjung Atap, Tanjung Pinang, Limbang Jaya, Tanjung Laut, di Kecamatan Indralaya Selatan di Desa Tanjung Dayang, di Kecamatan Indralaya di Desa Muara Penimbung, Talang Aur dan Tunas Aur, di Kecamatan Pemulutan Barat Desa Talang Pangeran Ulu, Talang Pangeran Ilir, Suka Rami, dan di Kecamatan Pemulutan di Desa Pemulutan Ilir, Pegayut, Pelabuhan Dalam dan Simpang Pelabuhan Dalam.
Usaha pembuatan tenun songket di Kabupaten OGAN ILIR Sumatera Selatan dilakukan secara keluarga, mulai dari ibunya sampai pada anak-anaknya. Sejak kecil anak-anak pengarajin songket sudah diajarkan, sehingga usaha tenun songket dapat berlangsung secara turun temurun dilestarikan oleh keluarga tersebut. Saat ini usaha ini sudah banyak menyebar ke tempat-tempat lain seiring dengan berpindahnya pengrajin tersebut seperti di Kota Indralaya, Kota Palembang, Prabumulih, Jambi dan Bangka. Saat ini pengrajin tenun songket di Kota Palembang sebagian besar asli dan berasal dari Ogan Ilir. Produk tenun Songket yang banyak dipasarkan pada gallery, outlet, ruko dan swalayan di Kota Palembang pun sebagian besar produk asli pengrajin dari Kabupaten OGAN ILIR SUMATERA SELATAN, yang produknya dikenal dengan Tenun Songket Palembang oleh daerah lain di Indonesia.
Tenun SONGKET dari daerah OGAN ILIR Sumatera Selatan sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Teknologi pembuatanya sebenarnya bukan murni berasal dari daerah tersebut , melainkan dari China, India dan Arab. Adanya perdagangan antara bangsa-bangsa asing yang telah diserap oleh masyarakat Ogan Ilir adalah teknologi pembuatan kain tenun yang hingga kini masih dilakukan oleh sebagian masyarakatnya.
Kain tenun songket OGAN ILIR Sumatera Selatan banyak dipakai oleh kaum perempuan dalam upacara adat perkawinan, baik oleh mempelai perempuan, penari perempuan maupun tamu undangan perempuan yang menghadirinya . Selain itu, songket juga di pakai dalam acara-acara resmi penyambutan tamu (Pejabat) dari luar maupun dari OGAN ILIR Sumatera Selatan sendiri. Pemakaian songket yang hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan-kegiatan tertentu tersebut disebabkan karena songket merupakan jenis pakaian yang tinggi nilainya, sangat di hargai oleh msyarakat Sumatera Selatan.
Pada zaman dahulu (Kerajaan Sriwijaya) kain tenun songket OGAN ILIR Sumatera Selatan tidak hanya diperdagangkan di daerah sekitarnya (Di Pulau Sumatra Saja), Melainkan juga keluar negri, seperti : Tiongkok, Siam, India dan Arab. Namun, pada saat penjajahan belanda dan jepang, tenun songket tersebut mengalami kemunduran. Bahkan, saat terjadinya Revolusi fisik (1945— 1950) Kerajinan tenun songket di OGAN ILIR Sumatera Selatan sempat terhenti karena tidak adanya bahan baku. Namun, di permulaan tehun 1960-an tenun songket OGAN ILIR Sumatera Selatan mengalami kemajuan yang pesat karena pemerintah menyediakan dan mendatangkan bahan baku serta membantu pemasarannya. Pada tahun 2006-2007, melalui Dinas Koperasi UMKM Industri dan Perdagangan Kabupaten Ogan Ilir, telah diberikan pembinaan dan Pelatihan khusus MEMBUAT POLA (CUKIT) dan Keterampilan Menenun Songket serta diberikan bantuan peralatan dan Bahan Baku Tenun, khususnya pengrajin di Kecamatan Pemulutan Barat, Pemulutan dan Indralaya. Kemudian pada era 2008 Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir melalui pembinaan Tim Penggerak PKK Kabupaten Ogan Ilir dibawah pimpinan Hj. Fauziah Mawardi, S.Pd. dengan gigih memperjuangkan kemitraan dengan BUMN Bank BNI 1946 dan Organisasi Citra Tenun Indonesia. Hasil upaya ini, para pengrajin songket tidak lagi mengalami kesulitan dalam mencari modal dan bahan baku, karena mendapatkan pasokan dari Bank BNI 1946 dan sekaligus pemasaran yang dibantu oleh Citra Tenun Indonesia (CTI) Jakarta.
Pengerjaan kain tenun di OGAN ILIR Sumatera Selatan umumnya di kerjakan secara “Sambilan” oleh gadis-gadis remaja yang menjelang berumah tangga dan ibu-ibu yang sudah lanjut usia sambil menunggu waktu menunaikan ibadah sholat. Pada umumnya pembuatan songket di kerjakan oleh kaum perempuan.
Dewasa ini pengrajin tanun songket OGAN ILIR Sumatera Selatan tidak hanya memproduksi satu jenis songket tertentu, seperti sarung. batik dan kain. Akan Tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, sudah merambat ke produksi jenis lain, seperti : gambar dinding, taplak meja, permadani bergambar, baju wanita, suprey, baju , kursi bantal permadani, selendang, serbet, kain lap dapur, sapu tangan, bahan kemeja, dan tussor (bahan tenun diagonal).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar