Kamis, 25 Agustus 2011

CERITA RAKYAT KECAMATAN TANJUNG BATU " PARANG BETUAH SAMPORAYO"

SUMBER CERITA : diambil dari cerita rakyat secara turun temurun warga Desa Burai, Desa Tanjung Baru Burai dan sekitarnya; cerita ini pernah dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta OLEH sANGGAR sENI CARAM SEGUGUK Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
Makam Samporayo Parang Betuah, masyarakat menjuluki sebagai
PAHLAWAN,
PARANG BETUAH adalah cerita rakyat yang berasal dari Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu  Kabupaten Ogan Ilir. Kisah ini menceritakan tentang kesaktian sebuah parang  yang dibuat oleh seorang pandai besi yang berasal dari Pulau Jawa. Orang tersebut bernama Puyang Sampurayo.
Alkisah, pada masa dahulu, di wilayah sekitar Kecamatan Tanjung Batu banyak perampok. Rakyat merasa tidak nyaman dengan ulah para perampok yang kian merajalela, baik siang maupun malam, baik di perairan sungai maupun di darat. Sampai kemudian datang seorang pandai besi yang konon berasal dari tanah Jawa. Orang yang kemudian dikenal dengan nama Puyang Sampurayo ini ternyata memiliki ilmu kanuragan yang tinggi di samping memiliki keahlian membuat alat-alat pertanian, khususnya senjata tajam (parang/golok).
Disinilah dimakamkan puyang SAMPORAYO yang berjuluk
pembuat PARANG BETUAH nan sakti.
Menyaksikan keganasan para perampok yang sering mengganggu penduduk itu membuat Puyang Sampurayo gerah. Dengan dibantu beberapa penduduk ia pun mencoba melawan para perampok yang datang ke kampung. Sampai akhirnya tak satu pun perampok yang lolos dari cengkramannya. Para perampok yang menyadari kekeliruannya dan menyerah dimaafkan dan bahkan ada yang tinggal di desa tersebut. Sementara mereka yang terus melawan terpaksa juga dilawan dengan kekerasan.
Lama kelamaan para begundal yang tersisa pun ketakutan setelah mendengar  banyak teman-teman seprofesinya yang ditangkap maupun yang mati di tangan Puyang Sampurayo. Akhirnya mereka pun ada yang menyerahkan diri secara baik-baik dan ada pula yang justru menjauh menghindari desa sekitar itu.
Kabar tentang kegagahberanian Puyang Sampurayo cepat menyebar ke mana-mana. Bahkan sampai pula ke telinga penguasa di daerah itu, yaitu Raja Usang Gobang. Usang Gobang merasa iri mendengar kabar kesaktian Puyang Sampurayo. Terlebih rakyat pun sangat banyak yang simpatik terhadap budi baik Puyang dari tanah Jawa itu. Karena di samping ia memiliki ilmu beladiri yang hebat, Puyang juga dikenal sebagai orang yang rendah diri dan suka menolong.
Batu Nisan makam SAMPORAYO yang asli sebagai bukti sejarah.
Di sisi lain, sebenarnya rakyat sendiri banyak yang kurang simpatik dengan Raja Usang Gobang. Sebab ia dikenal rakyat sebagai raja yang sombong dan congkak. Bahkan sering berlaku sewenanmg-wenang terhadap rakyat.
Karena sikap rakyat yang banyak simpatik terhadap Puyang Sampurayo inilah Raja Usang Gobang merasa cemburu dan iri. Ia tidak rela diperlakukan seperti itu oleh rakyatnya. Maka ia pun memutuskan utntuk membuat suatu perhitungan terhadap Puyang Sampurayo. Dibuatnya rencana khusus untuk menjebak atau melenyapkan Sang Puyang.
Suatu hari Raja Usang Gobang memerintahkan beberapa orang pasukannya pergi ke rumah Puyang Sampurayo. Ia akan memerintahkan Puyang membuat sebuah parang bertuah yang diperkirakan tidak akan mampu dibuat oleh Mpu pandai besi itu.
“Sampaikan kepada Puyang Sampurayo bahwa aku minta dibuatkan sebuah parang sakti dalam satu minggu ini. Beritahukan sama dia, bahwa sebagai bukti kesaktian parang itu, parang itu tidak akan mampu diangkat oleh tujuh orang yang berilmu tinggi sekalipun, selain olehku.” perintah Usang Gobang dengan nada tinggi. Ia yakin, Puyang Sampurayo tidak akan mampu memenuhi permintaannya itu.
“Baik, Paduka Raja. Apa ada perintah lain, Paduka?” Tanya seorang prajurit yang hendak diutus.
“Kalau dia tidak sanggup, maka kepalanyalah yang akan menjadi taruhannya! Ingat, hanya satu minggu!” tandas Usang Gobang.
Prajurit yang diutus itu pun bergegas undur diri setelah memberi hormat. Ia dan beberapa kawannya langsung menuju ke rumah Puyang Sampurayo. Saat itu, kebetulah Sang Puyang berada di rumahnya. Ia tengah membuat beberapa parang bersama beberapa anak buahnya. Di desa tersebut, parang buatan Puyang sudah sangat dikenal baik mutunya .
Tempat peristirahatan terakhir PUYANG SAMPORAYO sebagai
pembuat PARANG BETUAH nan sakti mandraguna.
Setelah dipersilakan masuk ke dalam rumah oleh Puyang Sampurayo, prajurit itu pun menyampaikan maksud kedatangannya seperti halnya yang diperintahkan Raja Usang Gobang.
“Maaf Puyang, kami hanya menyampaikan perintah!” ucap seorang prajurit setelah ia menyampaikan pesan rajanya.
“Aku maklum dengan kalian. Tapi rasanya, permintaan Raja Usang Gobang itu berat sekali. Sedangkan untuk membuat parang biasa saja kami memerlukan waktu beberapa hari.” ucap Puyang Sampurayo mencoba tenang. Tetapi walau bagaimanapun, ia tidak bisa menolak permintaan Raja Usang Gobang. Sebab alternatifnya, kepalanyalah yang akan jadi taruhan! “Sampaikan pada Paduka, aku akan berusaha semampuku.” lanjut Puyang kemudian.
Setelah mendengar keputusan Puyang Sampurayo, para prajurit itu pun kembali ke istana. Mereka akan mengabarkan kepada rajanya apa-apa yang telah disampaikan pandai besi yang dikenal sakti itu.
“Puyang Sampurayo menyanggupinya, Paduka, meski kelihatannya beliau sangat berat hati.” lapor seorang prajurit.
“Bagus. Kalau begitu, kita tunggu saja dalam seminggu ini. Pas pada hari ketujuh aku akan datang mengambilnya, atau pandai besi itu disuruh menyerahkan kepalanya!” Raja usang Gobang tersenyum puas. Ia yakin, Puyang Sampurayo tidak akan berhasil membuat parang sakti seperti yang dikehendakinya.
Ilustrasi Parang Besar yang dibuat oleh Samporayo.
Sementara itu, di rumahnya, Puyang Sampurayo bepikir keras untuk memenuhi permintaan Raja Usang Gobang. Ia merasa tidak mengerti dan sangat bingung untuk memenuhi permintaan Usang Gobang yang dirasakan aneh dan mengada-ada itu.
Sebagai orang yang sudah sarat dengan pengalaman, Puyang Sampurayo bermenung sejenak sambil memhohon pada Yang Maha Kuasa agar diberi petunjuk. Akhirnya, setelah lama berpikir, ia mendapat akal untuk membuat sebuah parang yang berat dan besar. Parang itu akan dibuatnya dari besi seberat dua pikul (dua kuintal).
Mulai hari itu juga, dibantu beberapa anak buahnya, Puyang Sampurayo segera mencairkan segala besi yang ada. Pesanan dari penduduk pun terpaksa ia hentikan.
Kabar permintaan Usang Gobang terhadap Puyang segera tersiar ke seluruh masyarakat. Mereka banyak yang prihatin, namun tidak bisa membantu secara langsung. Mereka hanya bisa berdoa agar Sang Puyang dapat memenuhi permintaan dari raja mereka yang dikenal congkak itu.
Setiap hari, siang dan malam, Puyang Sampurayo terus bekerja untuk membuat parang tersebut. Tidak lupa ia pun berdoa kepada Sang Maha Pencipta agar parang itu pun diberi tuah. Hingga pada akhirnya sampailah hari ketujuh seperti yang dijanjikan. Usang Gobang, yang tentu saja bersama para prajuritnya, akan datang mengambil parang itu atau kepalanyalah yang akan dipenggal Sang Raja.
Sepanjang jalan, Usang Gobang selalu tersenyum dan tertawa penuh kemenangan. Ia mengira Puyang Sampurayo tidak bisa melaksanakan perintahnya untuk membuat sebuah parang sakti yang tidak bisa diangkat oleh tujuh orang prajurit. Ia sengaja datang pagi-pagi untuk membuat kejutan. Atau setidaknya, ia meyakini bahwa pagi itu parang yang dipesan pasti belum jadi.
Setelah tiba di rumah Puyang Sampurayo, Raja Usang Gobang tercengang melihat parang panjang dan besar yang sudah disiapkan, terpasang melintang pada beberapa cagak kayu. Ia melihat parang itu sudah jadi dan tampak sempurna.
“Maaf Paduka Raja, sebenarnya parang ini belum sempurna benar. Hamba baru selesai menyepuhnya sehingga parang ini masih sangat panas.” ucap Puyang Sampurayo.
Raja Usang Gobang tidak menyahut. Ia langsung memerintahkan kepada tujuh anak buahnya untuk mengangkat parang tersebut sebagai uji coba. Namun ternyata ketujuh anak buahnya tak mampu mengangkat parang sakti yang berat dan sangat panas itu. Tangan dan pundak mereka melepuh. Mereka menjerit kesakitan.
Darah Usang Gobang mendesir. Ternyata dugaannya meleset jauh. Hatinya mengumpat dan mencaci maki Puyang Sampurayo. Meski ia sangat marah namun ia mencoba menahannya. Dengan kesombongannya ia menyuruh anak buahnya menyingkir.  Usang Gobang mendekat untuk mengangkat parang tersebut.
“Enyahlah kalian! Mengangkat parang seperti ini saja kalian tidak mampu!” hardik Usang Gobang.
Sebenanrnya Usang Gobang pun sangat menyadari bahwa parang tersebut berat dan panas. Ia mulai ragu, jangan-jangan ilmu yang dimilikinya pun tidak akan mampu untuk mengangkat parang tersebut. Tetapi karena rasa gengsinya dan amarahnya sudah meluap, ia tetap maju untuk mengangkat parang tersebut.
Begitu sudah di dekat parang, Usang Gobang membaca beberapa mantra. Lalu kedua tangannya menyentuh parang itu untuk diangkat. Ia tersenyum sejenak karena mantranya dianggap ampuh. Namun sesaat kemudian bibirnya mulai meringis, matanya mulai merah dan berair. Demikian juga keringat di keningnya mulai berjatuhan. Ia sungguh tak menyangka bahwa parang tersebut memang demikian panas dan berat. Namun ia tetap memaksakan diri. Kedua tangannya mulai melepuh dan terbakar. Ia terus mencoba menyangga dengan pundaknya. Pundaknya itu pun melepuh dan terbakar. Namun Raja yang sombong itu tampaknya tidak mau menyerah. Ia merasa malu kalau harus menyerah begitu saja. Akhirnya Raja Usang Gobang mati dengan tubuhnya yang hangus, terbakar oleh hawa panas parang bertuah buatan Puyang sampurayo.
Beberapa barang peninggalan Usang Sungging seperti tombsk, kullak dan lain-lain saat ini masih disimpan di beberapa rumah penduduk, tentu memerlukan pemeliharaan dari kemusnahan.  Ada hasil karya tangan beliau saat ini juga tersimpan di Masjid Al-Falah Kelurahan Tanjung Batu.
Makam Puyang Sampurayo masih ada di Desa Tanjung Baru Burai, yang sekarang masuk Kecamatan Indralaya Utara. Sebagai peninggalan Puyang Samporayo berupa keahlian membuat parang dan alat pertanian yang disebut KEAHLIAN PANDAI BESI menjadi  mata pencaharian sebagian besar penduduk di beberapa desa dalam Kecamatan Tanjung Batu, antara lain : Desa Tanjung Pinang I dan Tanjung Pinang II, Desa Limbang Jaya I, Limbang Jaya II, Desa Tanjung Laut, serta Desa Tanjung Dayang sekarang masuk Wilayah Kecamatan Indralaya Selatan.
Pengrajin pandai besi yang sedang membuat parang
Desa Tanjung Pinang Kec Tanjung Batu Kab Ogan Ilir
Bagi seniman, sponsor ataupun perusahaan perfilman tanah air yang berminat menjadikan cerita rakyat PARANG BETUAH samporayo kedalam rekaman Film kolosal dibukakan pintu selebar-lebarnya, dan dapat menghubungi Dinas Pariwisata Seni Budaya setempat. Monggo mas ......??!!

Senin, 22 Agustus 2011

CERITA RAKYAT KECAMATAN TANJUNG BATU “ USANG SUNGGING” DAN “PUTRI PINANG MASAK”

 SUMBER CERITA : Cerita yang disusun dari cerita secara turun temurun dari tokoh dan sesepuh warga masyarakat Tanjung Batu dan buku Masid-masjid Bersejarah di Indonesia, Aparat Desa Senuro Barat dan Senuro Timur dan warga desa sekitarnya, Cerita Rakyat ini sudah pernah dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dalam suatu bentuk Pentas Seni Budaya Nusantara oleh Tim Kesenian Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan.

Masjid Al-Falah merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia
dibangun abad ke-13, merupakan peninggalan
KH. Abdul Hamid atau USANGSUNGGING.
Layaknya daerah lain, daerah-daerah di dataran sumatera, khususnya di Sumatera Selatan sarat dengan cerita rakyat. Cerita rakyat atau dikenal juga dengan istilah legenda rakyat bisa dihubungkan dengan terbentuknya suatu tempat atau bisa juga asal usul dari penduduk, adat istiadat atau budaya yang hingga sekarang diterapkan dan menjadi panutan masyarakat setempat. Begitu juga dengan Cerita Rakyat Kecamatan Tanjung Batu, memiliki beberapa cerita rakyat. Cerita yang sangat terkenal adalah cerita mengenai KH. Abdul Hamid atau lebih dikenal dengan nama “Usang Sang Sungging” dan Putri Nafisah di Desa Senuro yang karena kecantikan rupanya kemudian lebih dikenal dengan “Putri Pinang Masak”. Konon ceritanya dua tokoh ini sangat erat kaitannya dengan cikal bakal bidang usaha dan mata pencaharian yang ditekuni oleh penduduk di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.
Makam USANG SUNGGING di Desa Tanjung Batu Seberang,
belum dipugar selayaknya Makam Orang bersejarah.
Usang Sang Sungging atau lebih dikenal dengan sebutan Sang Sungging. merupakan sebuah kisah, pada jaman Kerajaan di Kesultanan Palembang, mengabdilah seorang pati bernama Abdul Hamid. Beliau berasal dari keturunan kerajaan dari Pulau Jawa dan menetap di Kesultanan Palembang. Beliau terkenal dengan beberapa keahliannya seperti rancang bangun, melukis, mengukir/memahat bahkan menyiapkan rencana-rencana yang akan dilakukan oleh Istana. Beliau sangat dekat dan sudah dipercaya layaknya anggota keluarga oleh Sultan Palembang.
Diceritakan bahwa, pada suatu masa beliau mendapat mandat dari Sultan untuk membuat lukisan utuh permaisurinya. Mendapat tugas tersebut, Abdul Hamid menyanggupi dengan senang hati. Siang dan malam dia melukis permaisuri demi Sultan. Mendekati  tahap akhir pengerjaan lukisan tersebut Sultan mendatangi Abdul Hamid dengan maksud ingin melihat hasil lukisan yang dibuat olehnya. Sultan kelihatan senang dan menunjukkan binar muka yang puas atas lukisan yang dikerjakannya.
Pada malam berikutnya, Abdul Hamid melanjutkan pekerjaannya melukis permaisuri dengan sangat hati-hati. Dan…selesai sudah, gumannya tersenyum gembira setelah menyelesaikan lukisan tersebut. Sambil menatap hasil pekerjaannya, ia membayangkan wajah kegembiraan Sultan. Lama dia berdiam sampai dia tertidur sekejap. dan tanpa disadarinya tinta yang digunakannya menetes ke lukisan yang sudah jadi tersebut.
Keesokan harinya dengan perasaan bangga, Abdul Hamid menghadap Sultan dan menyerahkan lukisan yang dibuatnya. Alangkah terkejutnya dia, bukannya pujian yang diterima tetapi malah caci maki. Melihat lukisan tersebut, Sultan murka dan marah tanpa bisa terbendungkan. Sultan menghardik Abdul Hamid dengan pernyataan yang penuh kecurigaan, dari mana Abdul Hamid tahu kalau di paha kiri atas (dekat kemaluan) istrinya terdapat tahi lalat sebagaimana hasil lukisan tersebut. Mendapat hardikan pernyataan tersebut Abdul Hamid justru bingung bukan kepalang. Usut punya usut ternyata hasil tetesan tinta yang tanpa disengaja dan disadari oleh Abdul Hamid waktu dia mengantuk malam itu  jatuh tepat di paha sebelah kiri atas dari lukisan permaisuri, sehingga menyebabkan Sultan menuduh jika Abdul Hamid telah berselingkuh dengan istrinya/permaisuri.
Mendapat tuduhan seperti itu, Abdul Hamid berusaha menjelaskan hal yang sebenarnya. Akan tetapi, kemarahan Sultan sudah tidak bisa dielakkan lagi. Abdul Hamid pun diminta meninggalkan istana bahkan diancam akan dihukum gantung. Mendapati situasi yang tidak menguntungkan seperti itu, Abdul Hamid beserta hulu balangnya bergegas melarikan diri dengan menggunakan perahu. Tanpa arah tujuan yang jelas mereka terus menyusuri sungai menuju pedalaman demi menghindari kejaran tentara Sultan Palembang pada waktu itu.
Bangunan Masjid Al-Falah Kelurahan Tanjung Batu,
tampak dari samping (dalam Buku Masjid-Masjid
Tertua di Indonesia)
Berbulan-bulan mereka mengayuh perahu kayu. Dari Sungai Ogan menyusuri sebuah lebak yang kemudian dikenal dengan nama Lebak Meranjat. Merapatlah mereka di sebuah hutan belantara seberang Tanjung Batu yang akhirnya menetap, berdiam diri, bergaul di daerah tersebut sembari mengajarkan keahliannya dalam hal bertukang, memahat, membuat perhiasan, hingga menyebarkan ajaran agama Islam serta turut serta merancang puncak Masjid Al-Falah Tanjung Batu yang sekarang masih kokoh berdiri di Kampung Tiga Tanjung Batu. Masjid ini memang sudah cukup tua, tapi masih berdiri kokoh, masjid ini didirikan pada abad ke-13, sebagai peninggalan hasil karya asli SANG SUNGGING saat ini masih dapat dilihat UKIRAN PAHATAN KUBAH MASJID yang diletakkan pada bagian atap masjid Al-Falah Tanjung Batu serta beberapa hasil karya Sangsungging lain dalam Masjid yang sudah mengalami renovasi antara lain Mimbar.
Salah satu Ukiran Kubah (ditengah) ASLI peninggalan
buatan tangan USANGSUNGGING diletakkan di atap
Masjid Al-Falah Kel Tanjung Batu.
Karena keahlian dan kepandaiannya, kian hari keberadaan Abdul Hamid dan pengikutnya semakin mendapat tempat dihati penduduk. Karena berbagai keahliannya ini terutama sekali keahliannya sebagai tukang kayu dan tukang pahat, maka oleh penduduk setempat beliau diberi gelar Usang Sang Sungging (Sang Sungging).
Selang beberapa waktu beliau tinggal di seberang Tanjung Batu, terdengarlah olehnya bahwa ada seorang putri cantik yang tinggal di hulu sungai dan menetap di sebuah dusun bernama Senuro yang sekarang sudah menjadi 2 desa yaitu desa Senuro Barat dan desa Senuro Timur. Mendengar kabar ini, Sang Sungging lalu mengirim utusan untuk mengadakan silaturahmi dengan Putri tersebut. Sepulangnya dari tempat Sang Putri, para utusannya membawa kabar baik bahwa maksud dan tujuan mereka diterima dengan baik dan tangan terbuka oleh Puteri. Utusannya juga bercerita bahwa Sang Putri senang mengajarkan kepada penduduk setempat bagaimana cara mengerjakan kerajinan menganyam, membuat bakul dari kulit Batang bambu dan membuat kerajinan lainnya.
Makam PUTRI PINANG MASAK atau Putri NAFISAH atau PUTRI Senuro, terletak di desa Senuro Barat
Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir. di dalam Selubung Makam masih ada asli Pakaian Putri Nafisah.
Mendengar berita tersebut, Sang Sungging pun tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya dan memutuskan untuk segera bertemu Sang Putri. Setelah kedua insan tersebut berjumpa, diketahuilah bahwa Putri tersebut bernama Nafisah. Konon karena kecantikan rupanya dan kulitnya agak kemerah-merahan seperti buah Pinang Masak, maka oleh penduduk setempat ia dijuluki Puteri Pinang Masak. Lalu siapa dan dari manakah asal usul Putri Senuro atau Putri Pinang Masak?
Dari sejarahnya, Putri Nafisah atau Putri Pinang Masak berasal dari daerah Banten, Jawa Barat dan sebelum sampai ke Desa Senuro bermukim di Empat Ulu Laut tepian Sungai Musi. Berita bermukimnya seorang putri di ulu laut Palembang yang kecantikannya tiada tara serta tandingannya di seluruh kerajaan Palembang tersebar luas dikalangan anak pembesar kerajaan, serta menjadi pembicaraan hangat para pemuda di seluruh negeri, sehingga banyak yang berlomba ingin mendapatkannya. Berita ini didengar juga oleh Sultan Palembang sehingga timbullah hasrat Sultan untuk membuktikan kebenaran dari cerita tersebut dan melihat dari dekat kecantikan Sang Putri. Jika memang benar, muncul hasratnya untuk menjadikan Sang Putri sebagai gundik, penambah gundik yang telah ada di istana.
Sultan langsung mengutus beberapa pengawal istana untuk menjemput putri dan membawanya ke istana. Sebelum para pengawal datang, putri rupanya sudah lebih dulu mengetahuinya. Putri sangat bersedih hati,  berusaha dan berikhtiar bagaimana caranya menghindari hal tersebut. Bahkan akhirnya Putri bersumpah lebih baik mati daripada menjadi gundik Sultan. Namun puteri juga sadar bahwa untuk menghindari kekuasaan Sultan dan para pengawalnya adalah suatu upaya yang tidak mungkin.
Putri dan keluarganya lalu mencari cara bagaimana mengelabui para pengawal istana yang hendak menjemputnya. Akhirnya munculnya tipu muslihat untuk mengelabui mereka. Sebelum para pengawal istana tiba, Putri merebus jantung pisang. Setelah dingin, air rebusan jantung pisang itu lalu dibuat mandi oleh Putri, akibatnya badan Putri menjadi hitam pekat, kotor dan kelihatan menjijikkan dan kemolekannya menjadi hilang.
Ketika para Pengawal Sultan sampai dirumah Putri Nafisah, mereka sangat terkejut dengan pemandangan ditemui. Mereka menjadi ragu apakah benar orang yang berdiri dihadapan mereka adalah Putri Nafisah yang kecantikannya menggemparkan seluruh negeri itu. Timbul keragu-raguan di hati mereka untuk membawa Putri, namun karena ini adalah perintah Sultan dan tidak boleh dilanggar, maka akhirnya mereka membawa juga Putri Nafisah ke istana untuk dipersembahkan kehadapan Sultan.
Sesampai di istana mereka langsung menghadap Sultan berikut Sang Putri. Begitu melihat sosok yang berdiri dihadapannya, Sultan bertanya kepada para pengawalnya, apakah benar yang mereka bawa ini adalah Putri Nafisah yang terkenal kecantikannya tersebut. Para pengawal mengiyakan. Lalu Sultan mengulangi pertanyaannya, kali ini ke arah Putri Nafisah. Mendapat pertanyaan tersebut Putri Nafisah diam saja. Mendapatkan kondisi tersebut, murkalah Sang Sultan dan seketika itu Putri Nafisah di usir keluar dari istana. Maka dengan bergegas Sang Putri meninggalkan istana dan kembali kerumahnya.
Mengetahui tipu muslihatnya berhasil, Putri dan keluarganya merasa senang tiada terkira. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun kemudian hidup tenang dan terlepas dari niat Sang Sultan. Namun, kondisi ini ternyata tidak berjalan semulus yang mereka harapkan. Cerita kecantikan Sang Putri ternyata masih tetap menjadi buah bibir di kalangan khalayak. Sultan pun penasaran dan mengutus para penyelidik istana untuk menyelidiki kabar yang berhembus tersebut. Para penyelidik bekerja secara diam-diam dan dengan sangat cermat. Setelah melakukan pengamatan beberapa lama, para penyelidik istana akhirnya mendapatkan fakta yang sebenarnya. Mereka juga mengetahui tipu muslihat Sang Putri ketika menghadap Sultan sebelumnya.
Mendengar laporan dari para penyelidiknya, Sultan marah bukan kepalang. Diperintahkannya kembali pengawal untuk menjemput Sang Putri secara paksa. Namun sebelum para pengawal istana sampai, para pengikut setia Sang Putri segera menyampaikan berita tersebut. Mendapati berita itu, Putri dan keluarganya sangat terkejut dan sedih bukan kepalang. Mereka berunding, usaha apa kali ini yang harus mereka lakukan untuk menghindari niat Sang Sultan. Setelah berunding, akhirnya diputuskan satu-satunya jalan adalah melarikan diri.
Dengan persiapan seadanya, di suatu malam, bersama dengan dua orang dayang dan dua orang pengawal, berangkatlah Putri Nafisah dengan menggunakan sebuah rejung (perahu) menuju ke uluhan Sungai Ogan. Berbulan-bulan rombongan Sang Putri menyusuri sungai dan lebak, sesekali mereka harus menepi dan bersembunyi untuk menghindari kejaran para pengawal istana. Akhirnya sampailah mereka pada sebuah lebak yang cukup luas, yang kelak lebak itu bernama Lebak Meranjat. Di sebuah teluk yang bernama Teluk Lancang, rejung atau perahu mereka dihadapkan ke teluk tersebut, dan menyusuri sebuah sungai kecil (payo) yang arusnya sangat deras. Lalu sampailah mereka di suatu tempat yang mereka perkirakan cukup aman dan tidak mungkin ditemukan oleh para pengawal istana.
Kedatangan seorang Putri beserta dayang dan pengawalnya cepat tersebar di telinga penduduk sekitar. Penduduk pun beramai-ramai tinggal dan menetap bersama Sang Putri. Untuk menghilangkan jejak, Putri Nafisah kemudian mengganti namanya dengan sebutan Putri Senuro. Tempat bermukim mereka berkembang menjadi sebuah dusun yang kemudian diberi nama Desa Senuro, sesuai dengan nama Sang Putri. Dua dayang dan dua pengawal putri ikut hidup dan menetap disana. Mereka berjanji akan menyertai dan menjaga puteri hingga akhir hayatnya.
Ditempat yang baru ini Sang Putri Pinang Masak menjadi buah bibir para pemuda dan anak-anak orang terpandang di sekitar wilayah tersebut. Sang Putri juga mempunyai kepandaian dalam hal membuat anyaman. Putri Pinang Masak mengajarkan juga kepandaian kepada penduduk terutama kaum remaja putrinya, terutama anyaman untuk alat-alat memasak yang digunakan sehari-hari. Putri Pinang Masak juga terkenal dengan keahliannya dalam membuat anyaman yang tidak tembus oleh air. Sampai akhirnya kabar kecantikan dan keahliannya ini turut di dengar oleh Sang Sungging.
Sang Sungging begitu terharu mendengarkan cerita dan pengalaman Putri Nafisah atau Putri Pinang Masak ini. Ternyata mereka berdua mengalami peristiwa yang serupa. Dari beberapa kali pertemuan, keduanya pun sepakat untuk menjalin tali kasih. Keduanya juga tak segan bercerita mengenai kepandaian masing-masing. Sang Sungging dalam hal bertukang, memahat, melukis dan membuat kerajinan, sementara Putri Pinang Masak dalam hal membuat anyam-anyaman. Sang Sungging juga mendengar jika Sang Puteri bisa membuat anyaman yang tidak tembus air.
Suatu hari Sang Sungging ingin dibuatkan masakan gulai oleh Putri Pinang Masak. Sang Putri memenuhi permintaan itu. Setelah gulai masak, dibuatlah sebuah bakul dengan tudungnya untuk tempat gulai tersebut dan langsung dikirim kepada Sang Sungging. Mendapat kiriman Dari Putri Pinang Masak, Sang Sungging langsung membuka bakul tersebut dan alangkah herannya Sang Sungging, karena sedikitpun kua gulai itu tidak menetes keluar. Sang Sungging semakin percaya dan takjub dengan kepandaian Sang Putri Pinang Masak. Setelah habis gulainya dimakan lalu bakul tadi dikembalikan kepada Putri Pinang Masak. Sebagai balasannya Sang Sungging menyuguh (menyerut) papan dengan umbangnya (hasil suguhan kayu) hampir 9 meter tanpa terputus-putus. Umbang kayu ini kemudian dimasukkan ke dalam bakul tersebut dan dikirim kembali ke Putri Pinang Masak. Oleh Puteri umbang tersebut kemudian dianyam menjadi bakul. Pada perjalanannya, bakul inilah yang kemudian menjadi wadah hantaran lauk pauk dari Putri Pinang Masak ke Sang Sungging.
Kedua sejoli itu saling berlomba menunjukkan keahlian masing-masing sembari menjaga tali percintaannya menuju hari pernikahan. Persiapan demi persiapan pun mereka gencarkan demi menjelang pelaksanaan pernikahan. Sebelum pernikahan terjadi, datang beberapa orang pengawal Putri Pinang Masak menemui Sang Sungging membawa pesan bahwa Sang Putri Pinang Masak sedang jatuh sakit. Dari hari ke hari sakitnya bertambah parah dan tidak menunjukkan kesembuhan.
Dalam kondisi sakit parah tersebut Putri Pinang Masak tetap memikirkan kelangsungan hidup kaumnya. Dia masih teringat dengan kisahnya dulu dan tidak mau kaumnya kelak mengalami nasib serupa. Merasa kondisinya sudah tidak bisa diharapkan lagi, sebelum meninggal Sang Putri Pinang Masak berdoa dan bersumpah kepada yang maha kuasa agar kelak anak cucu kaumnya tidak memiliki paras cantik seperti dirinya, karena kecantikan itu akan membawa kesengsaraan.
Setelah melafazkan sumpah tersebut akhirnya Putri Pinang Masak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Putri wafat dengan meninggalkan empat orang dayang dan dua orang pengawal yang sangat setia termasuk kekasihnya Sang Sungging. Putri lalu dimakamkan ditempat tersebut. Bagi anak cucu kaumnya, Putri Senuro atau Putri Pinang Masak menjadi pelambang kaum wanita yang menjunjung tinggi martabat. Setelah Sang Putri meninggal, dayang-dayang dan pengawalnya bertekad akan tetap berdiam di tempat itu, dan akan mati berkubur disamping kubur Sang Puteri.
Makam Sang Putri beserta dayang dan pengawalnya juga masih bisa dijumpai di Desa Senuro Barat Kecamatan Tanjung Batu. Saat ini masih tergantung beberapa helai pakaian Sang Putri. Adapun terhadap sumpah Sang Puteri, Sampai saat ini sumpah tersebut masih terngiang di telinga penduduk Desa Senuro Barat dan Desa Senuro Timur. Percaya tidak percaya, jika kita berkunjung ke desa tersebut maka kita akan menemui pemandangan seolah mencerminkan sumpah dari Sang Putri. Apakah ini sebuah kebetulan? atau memang akibat dari sumpah Sang Putri, namun masyarakatnya saat ini sudah banyak yang kaya raya dari hasil kebun karet di 2 desa ini, sehingga sudah banyak para putri dari Desa Senuro yang memiliki paras nan cantik kayak bidadari atau aslinya Putri Pinang Masak, mereka sudah pandai bersolek sesuai dengan kehidupan dan alat kecantikan modern atau bahkan datang mempercantik diri ke salon kecantikan.
Sedangkan tentang Sang Sungging sendiri. Dalam sebuah cerita dikisahkan bahwa keahliannya dalam bertukang termasuk membuat ukiran yang diceritakan oleh penduduk desa dari mulut ke mulut akhirnya sampai juga di telinga Sultan. Sebelumnya, Sultan telah menyadari kekeliruannya dalam menilai Sang Sungging. Setelah mendengarkan penjelasan dari Permaisurinya dan penasehat istana, Sultan berkesimpulan bahwa tetesan tinta yang membentuk tahi lalat di paha kiri atas pada lukisan istrinya murni akibat ketidaksengajaan Sang Sungging.
Sebagai wujud dari penyesalannya dan sekaligus untuk membuktikan cerita orang tentang keahlian Sang Sungging, Sultan mengirimkan utusannya. Melalui utusannya ini Sultan menyampaikan kekeliruannya dalam menilai Sang Sungging dan juga memesan daun pintu berukir. Singkat cerita, daun pintu tersebut dapat diselesaikan oleh Sang Sungging persis seperti yang dikehendaki oleh Sultan. Dari situ Sultan akhirnya benar-benar percaya dengan berita tersebut.
Lalu Sultan mengirimkan utusannya kembali, kali ini dalam misi mengajak Sang Sungging untuk kembali ke Istana. Namun karena Sang Sungging merasa sudah betah dan telah memiliki ikatan emosional dengan peduduk setempat, ajakan Sultan tersebut ia tolak dengan penjelasan dan alasan yang halus. Ia tetap pada pendiriannya untuk tinggal dan membangun bersama penduduk setempat sampai akhir hayatnya. Setelah meninggal, Sang Sungging akhirnya dimakamkan di sekitar desa pelariannya yaitu di seberang Desa Tanjung Batu Seberang.
Sebagaimana disinggung diatas, dari kedua tokoh ini sangat diyakini memiliki hubungan erat dengan terbentuknya pola mata pencaharian penduduk lokal. Usang Sungging, dengan keahliannya sebagai tukang kayu dan pembuat kerajinan dari tangan telah mewariskan bidang usaha pertukangan/pembuatan rumah panggung yang sekarang dikenal dengan RUMAH BONGKAR PASANG atau RUMAH KNOCKDOWN yang saat ini ditekuni oleh warga Desa Tanjung Batu Seberang dan Desa Tanjung Baru Petai dan kerajinan tangan seperti PERHIASAN PENGANTIN (dari kuningan) ditekuni oleh warga Kelurahan Tanjung Batu dan Tanjung Batu Timur, PANDAI BESI (pembuatan golok, pisau dan lain-lain dari besi) ditekuni oleh warga Tanjung Pinang I dan II, Limbang Jaya I dan II, Tanjung Laut, Tanjung Dayang (Indralaya Selatan), PANDAI ALUMINIUM ditekuni oleh warga Desa Tanjung Atap dan pembuatan perhiasan dari emas dan perak atau PANDAI EMAS DAN PERAK ditekuni oleh warga Kelurahan Tanjung Batu dan Tanjung Batu Timur. Sementara Putri Pinang Masak mewariskan bidang usaha ANYAM-ANYAMAN dari Bambu dan Rotan yang hingga sekarang ditekuni oleh masyarakat Desa Senuro Barat dan Senuro Timur Kecamatan Tanjung Batu……………………. (Habis).
Bagi seniman dan pengusaha film yang berminat untuk mengaransir Cerita Rakyat USANGSUNGGING menjadi Film Layar Lebar atau Laya Kaca, Monggo silahkan, warga Tanjung Batu sangat mendukung dan menyambutnya dengan baik…. semoga.

Jumat, 19 Agustus 2011

TENTANG SHOLAT-SHOLAT SUNAT

1. BACAAN SHOLAT WITIR


Pada raka’at pertama Nabi saw. biasa membaca surah Al A’la, pada raka’at
kedua beliau membaca surah Al Kafiruun, dan pada raka’at ketiga membaca
surah Al Ikhlas. [HR. Nasa'i dan Hakim, disahkan oleh Hakim]
Terkadang beliau menambah dengan surah AlFalaq dan surah
AnNaas.[HR.Tirmidzi, Abu 'Abbas Al-Asham, Hakim dan disahkan oleh Hakim,
disetujui Dzahabi]
Terkadang dalam satu raka’at witir beliau membaca 100 ayat dari surah
AnNisaa’.[HR. Nasa'i dan Ahmad dengan sanad shahih
Adapun pada 2 raka'at sesudah witir beliau biasanya membaca surah Zalzalah
dan surah AlKafiruun.[HR.Ahmad, Ibnu Nashr, Thahawi, Ibnu Khuzaimah, dan
Ibnu Hibban dengansanad shahih].
2. TATA CARA SHOLAT TAHAJJUD
Assalamu’alaikum sahabat, berikut adalah artikel tentang tata cara sholat tahajjud. Tapi sebelumnya admin akan menjelaskan apa itu sholat tahajjud :
Sholat Tahajud adalah sholat malam (sholatullail). Bila kita dapat senantiasa melaksanakan sholat ini, niscaya kita akan selalu dekat dengan Alloh Swt. dan dimudahkan segala keinginan dan hidup kita.
Rosulullah SAW bersabda:
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Di Hadits yang lain, Rosulullah SAW bersabda:
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Waktu Pelaksanaan Sholat Tahajud
Sholat Tahajud harus dilaksanakan setelah tidur. Meskipun waktu pelaksanaanya ditetapkan sejak waktu isya’ hingga shubuh, waktu yang afdhal (waktu utama) untuk melaksanakannya adalah;
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Abu Muslim bertanya kepada Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?” Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Jadi waktu yang paling afdhal sehingga keinginan atau do’a kita ijabah (dikabulkan) adalah 1/3 malam yang terakhir.
Jumlah Raka’at dalam Shalat Tahajud
Raka’at dalam shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit dilaksanakan dalam 2 ( dua ) raka’at. Adapun jumlah yang paling utama adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah.
Tata cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Menurut keterangan Said Ibnu Yazid, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat malam 13 raka’at dengan tata cara sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud adalah:
1. Pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah, membaca Surat Al-Baqarah ayat 284-286.
2. Pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah, membaca surat Ali Imron 18-19 dan 26-27.
Apabila kita belum hafal surat-surat tersebut, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.


3.  SHOLAT SUNNAT RAWATIB

Sholat Rawatib adalah sholat sunnah yang dikerjakan baik sebelum sholat fardhu maupun sesudahnya. Jika dikerjakan sebelum sholat fardhu, maka dinamakan sholat sunnah rawatib qabliyah. Sedangkan jika dikerjakan sesudahnya, maka namanya sholat sunnah rawatib ba’diyah,  ditinjau dari segi kepentingannya.
Adapun cara mengerjakan sholat sunnah rawatib ini sama dengan cara mengerjakan sholat fardhu, baik bacaan maupun gerakannya. Perbedaannya hanyalah pada niat, bacaan pada sholat sunnah rawatib tidak dinyaringkan.
Niat sholat rawatib terbagi 8 bagian :
a. Sebelum sholat zhuhur:
USHALLII SUNNATAZH ZHUHRI RAK’ATAINl QABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALAA,
Artinya:
Aku (niat) shalat sunat qabliyyah zhuhur 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
b. Sesudah sholat zhuhur:
USHALLII SUNNATAZH ZHUHRI RAK’ATAINl BA’DIYYATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya: ”
“Aku (niat) shalat sunat ba’diyyah zhuhur 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
c. Sebelum sholat ashar:
USHALLHSUNNATAL’XSHRIRAK’ATAMQABLIYYATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya:
” Aku (niat) shalat sunat qabliah ashar 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
d. Sebelum sholat maghrib :
USHALLII SUNNATAL MAGHRIBI RAK\’ATAINl QAB-LIYYATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya: ” .’
“Aku (niat) shalat sunat qabliyyah maghrib 2 rakaat, karena Allah Ta’alar
e. Sesudah sholat maghrib :
USHALLII SUNNATAL MAGHRIBI RAK\’ATAIN BA\’DIYYATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya:
“Aku (niat) shalat sunat ba’diyyah maghrib 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
f. Sebelum sholat isya:
USHALLII SUNNATAL ‘ISYAA’I RAK’ATAINI QABLIYYATAN LILLAAHITA’AALAA.
Artinya:
“Aku (niat) shalat sunat qabliyyah isya 2 rakaat, karena Allah Ta’alar
g. Sesudah sholat isya:
USHALLII SUNNATAL ‘ISYAA’I RAK’ATAINI BA’DIY-YATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya:
“Aku (mat) shalat sunat ba’diyyah isya 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
h. Sebelum sholat subuh:
USHALLII SUNNATASH SHUBHI RAK’ATAINI QABLIY-YATAN LILLAAHI TA’AALAA.
Artinya:
“Aku (niat) shalat sunat qabliyyah subuh 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”
Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua... amiin.

KEADAAN UMUM KECAMATAN TANJUNG BATU KABUPATEN OGAN ILIR

Letak Geografi Wilayah
Kecamatan Tanjung Batu merupakan salah satu dari 16 kecamatan dalam Kabupaten Ogan Ilir. Kecamatan Tanjung Batu terbentuk sejak terbentuknya Kabupaten OKI 60 tahun yang lalu, namun sebagai bagian dari Kabupaten Ogan Ilir Kecamatan Tanjung Batu ditetapkan kembali berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir. Sebagai kecamatan tua Camat yang pernah memimpin Kecamatan Tanjung Batu hingga Agustus 2011 berjumlah 24 Camat, dengan Camat saat ini M. Kapidin, S.Sos.
Secara geografis Kecamatan Tanjung Batu terletak diantara 30 14' Lintang Selatan sampai 30 26' Lintang Selatan dan diantara 1040 32'  Bujur Timur sampai 1040 45'   Bujur Timur.  Luas wilayah Kecamatan Tanjung Batu adalah 26.375 hektar atau 263,75 km2 terbagi kedalam dataran rendah sampai ketinggian 10 meter dari permukaan laut, dengan daratan mencapai 80 persen dan rawa—rawa 20 persen.  Batas-batas wilayah Kecamatan Tanjung Batu adalah :
Sebelah Utara   : dengan Kecamatan Indralaya Utara dan Kecamatan Indralaya
Sebelah Selatan : dengan Kecamatan Payaraman, Kec Lubuk Keliat dan Kec.
                             Rantau Alai 
Sebelah Timur   : dengan Kecamatan Indralaya Selatan dan Kec Tanjung Raja
Sebelah Barat    : dengan Kabupaten  Muara Enim
Kecamatan Tanjung Batu dengan ibukota di Kelurahan Tanjung Batu dan Kelurahan Tanjung Batu Timur. Kecamatan Tanjung Batu mempunyai 19 desa dan 2 kelurahan. Desa dengan wilayah terluas adalah Desa Burai dengan luas 39,52 km2 atau 3.952 hektar, dan Desa Sentul dengan luas wilayah 34,92 km2 atau 3.492 hektar. Sedangkan desa tersempit adalah Desa Seribandung yang luas wilayahnya hanya mencapai 3,98 km2 atau 398 hektar, dan Desa Tanjung Batu Seberang dengan luas wilayah 6,47 km2 atau 647 hektar. 
Kecamatan Tanjung Batu merupakan wilayah yang mempunyai Iklim Tropis Basah (Type B) dengan musim kemarau  berkisar antara bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedangkan musim hujan berkisar antara bulan November sampai dengan April.  Pada tahun 2010 iklim di Kabupaten Ogan Ilir telah mengalami pergeseran sehingga musim hujan terjadi sepanjang tahun.   Musim kemarau dengan sedikit turun hujan terjadi pada bulan-bulan April sampai Agustus 2010. Curah  hujan rata-rata 1.159,25 mm, dan rata-rata jumlah hari hujan 59 hari per tahun.  Suhu udara harian berkisar antara 230 C sampai 320 Celcius.  Rata-rata Kelembaban udara harian berkisar antara 69 % sampai 98 %.
Wilayah Kecamatan Tanjung Batu dialiri oleh satu anak sungai Ogan yaitu Batanghari Penesak (batanghari rengas, payo serdang/seribandung lamo, payo penyurek, payo perigi, payo sambur) yang mengalir mulai dari Desa Rengas, Tanjung Lalang, Serikembang sampai Meranjat, serta sungai kelekar yang mengalir di desa burai dan Sentul yang bermuara di Sungai Ogan di Indralaya.


Di Kecamatan Tanjung batu terdapat sarana pasar mingguan yang disebut KALANGAN, berjumlah 9 unit kalangan yaitu terdapat di Kelurahan Tanjung Batu, Desa Seribandung, Seritanjung, Bangun Jaya / Tanjung Tambak, Limbang Jaya I, Tanjung Laut, Tanjung Pinang I, Sentul dan di Desa Burai.
Sedangkan sarana kesehatan yang dimiliki Kecamatan Tanjung Batu adalah 2 unit PUSKESMAS yaitu Puskesmas Tanjung Batu dan Puskesmas Seritanjung, juga terdapat 7 unit PUSKESMAS PEMBANTU yaitu PUSTU di Desa Seribandung, Tanjung Baru Petai, Tanjung Pinang I, Senuro Timur, Burai, Senuro Barat, dan PUSTU di Desa Tanjung Pinang II.

Rabu, 17 Agustus 2011

Minggu, 14 Agustus 2011

AKTIVITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT TANJUNG BATU, AGUSTUS 2011

MULAI DARI GERAK JALAN 17-AN, SAMPAI CARA KEHIDUPAN MENCARI NAFKAH SEHARI-HARI.

Pelajar SMP Tanjung Batu pria sedang aksi lomba gerak jalan 17 Agustus-an

Pelajar Putri SMP di Tanjung Batu sedang aksi lomba gerak jalan tk
Kecamatan Tanjung Batu pada HUT RI

Aksi gerak jalan pelajar ini menunjukkan semangat yang tinggi demi
mencapai cita-cita meneruskan pejuang bangsa, di Tanjung Batu

Masyarakat yang berdiam dekat sungai di Tanjung Batu yang sangat
akrab dengan mencari ikan

Kepadaian khusus masyarakat Tanjung Pinang Kec Tanjung Batu
sebagai pengrajin Pandai Besi membuat parang dan lai-lain.

Anak muda Cit warga Kel Tanjung Batu yang sedang praktek membuat
kerajian perak di Jogyakarta Silver untuk menambah keahliannya.

Di Desa Tanjung Atap Kec Tanjung Batu, masyarakatnya sebagian besar
sebagai pengrajin aluminium dengan membuat alat memasak, merupakan
ketrampilan turun temurun, di Kab Ogan Ilir  hanyaada  di desa ini.

Seorang ibu Desa Limbang Jaya bertahun-tahun sudah menjadi pengrajin
tenun songket khas Sumatera Selatan yang sudah terkenal di tanah air dan
di manca negara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Rumah Bongkar, rumah panggung khas Ogan Ilir dibuat oleh warga
desa Tanjung Batu Seberang dan Desa tanjung baru Petai, siap memenuhi
kebutuhan konsumen dari seluruh Indonesia bahkan ekspor ke Eropah yaitu 
Germany, Spanyol, dan Belanda pernah dilakukan masyarakat dari 2 desa ini.

Masjid Walimah sebagai masjid besar di Ibukota Kecamatan Tanjung Batu,
sebagai tempat syi;ar Agama Islam meneruskan perjuangan KH Abdul Hamid
atau dikenal dengan USANGSUNGGING seorang tokoh masa lalu di
Kecamatan Tanjung Batu